SANG PENGAWAS UJIAN YANG TERUSIR (kisah dibalik UAS BN Sekolah Dasar 2009)

Sejak Senin tanggal 11 Mei 2009, istri penulis berkesempatan bertugas sebagai pengawas UAS BN (Ujian Akhir Semester Berstandar Nasional) di sebuah SD di Cimahi. Tugas yang tidak ringan ini sejak awal sudah diprediksi akan berhadapan dengan tradisi kecurangan tahunan. Kecurangan yang selalu dilakukan setiap akhir tahun ajaran. Pengalaman teman-teman guru menunjukan hampir setiap sekolah yang diawasi saat pelaksanaan UAS BN bisa dipastikan terjadi kecurangan-kecurangan oleh siswa. Kecurangan ini tidak murni oleh siswa sendiri. Berdasarkan pengamatan lapangan, kecurangan yang terjadi di UAS BN sebelum-sebelumnya bisa disebut sebagai kecurangan sistematis.

kunci-jwb

KUNCI JAWABAN DARI GURU

Mengapa disebut kecurangan sistematis? Disebut kecurangan sistematis karena kecurangan ini terjadi dari atas ke bawah. Di sinyalir oleh teman-teman pengawas bahwa guru terlibat dengan cara memberikan atau bahkan menyediakan kunci jawaban di salah satu bangku siswanya. Jadi, sebelum siswa masuk dan mengerjakan soal, sang guru telah memberikan kunci jawaban dilaci meja siswanya.
Artinya, guru sudah mengerjakan soal dan mendapat bocoran. Dari mana? Diduga tentu dari oknum dinas pendidikan. Mengapa mereka melakukan itu. Karena setiap Dinas Pendidikan Daerah tertentu berkepentingan agar tingkat kelulusan di wilayahnya meningkat dan dipandang berprestasi dengan kualitas pendidikan yang tinggi. Meski ujung-ujungnya sebenarnya yang dirugikan adalah anak dididik karena secara langsung dan nyata mereka sudah diajarkan untuk menjadi orang yang tidak jujur (curang), rendah diri, pecundang, dan pengecut. Anak dididik seperti inikah yang kelak akan memimpin bangsa kita?
SANG PENGAWAS UJIAN YANG TERUSIR
UAS BN ternyata tidak melulu meninggalkan cerita suram. Di sebuah SD swasta dan juga masih di Cimahi terjadi insiden unik, menggelikan, dan sekaligus tentu membanggakan.
Insiden ini bermula ketika seorang pengawas (pengawas biasanya berasal dari sekolah yang berbeda dengan siswa yang diawasi) yang kebetulan seorang guru laki-laki secara spontan melakukan pengawasan terhadap jawaban peserta UAS BN. Aneh bin ajaib, guru tersebut tiba-tiba meraih sebuah lembar jawaban seorang siswa dan dia menghapus sebagian besar jawaban siswa seraya memberikan jawaban yang menurut dia benar. Insiden ini dilakukan secara terbuka di kelas disaksikan oleh semua siswa dan siapapun yang berada diruangan tersebut.
Apa yang terjadi berikutnya? Perlawanan. Siswa yang lembar jawabannya diambil menolak dibantu sang Guru Pengawas bahkan menangis sambil berkata, “Bapak, itu dosa…. Saya mau mengerjakan sendiri. Saya tidak mau dibantu!!”
Perlawanan ke-2 datang dari siswa peserta ujian UAS BN satu kelas yang lain. Spontan mereka menegur. “Bapak curang!! Itu dosa!! Kami tidak mau Bapak Pengawas ini ada di sini. Besok kami tidak mau melihat Bapak Pengawas ini mengawasi ujian kami. Kalau Bapak ini besok masih ada, kami tidak mau ikut ujian!!”
Wow… sebuah perlawan sengit yang tidak main-main.
Tidak berhenti disitu. Perlawanan berikut bertubi-tubi dilakukan oleh orangtua siswa dan pengelola sekolah. Bahkan seorangtua siswa berteriak menegur sang Pengawas. Seorang pengelola sekolah juga tak kurang marahnya. “Sudah bagus-bagus kami mendidik anak-anak kami, anda malah merusaknya!!”
Keesokan harinya, sang Pengawas ujian ini pun tidak hadir di kelas. Terusir.**

About the Author

Terima kasih telah membaca artikel di blogku. Setelah itu silahkan klik tanda "SUKA" bergambar jempol dan FOLLOW ME di sebelah kanan. Sekali lagi, Terima kasih sudah mengklik SUKA dan FOLLOW ME, Anda telah memberi saya seribu semangat untuk terus berkarya.