KETIKA JOGJA DI HATI (Sebuah Ramuan Rahasia Teh Lek Man)

Oleh Zazuli (traveller dan pemburu warung)

Untuk kesekian kalinya aku ke Jogja, tak pernah muncul kebosanan. Kota yang selalu hidup siang malam ini telah menempati kerinduan yang khusus dibanding kota-kota lain. Bahkan kota kelahiranku, Surabaya. Tidak hanya penulis , sebagian besar teman-teman yang pernah berkunjung atau tinggal lama di Jogja, selalu memiliki kerinduan yang sama untuk datang dan datang lagi ke Jogja. Ada yang bisa menjelaskan mengapa?

Total general, penulis pernah tinggal di Jogja kurang lebih lima tahun untuk menimba ilmu kehidupan, hukum, dan musik. Pertama tinggal tahun 1992 – 1994. Kemudian kembali tahun 2002 – 2005. Sementara itu, di Surabaya penulis tinggal kurang lebih selama sembilanbelas tahun dan Bandung tigabelas tahun. Namun yang ‘nyantol’ di hati tetap saja Jogja.

Pelanggan menikmati teh Jawa Nasgitel Lek Man

Pelanggan menikmati teh Jawa nasgitel Lek Man

Ritual tetap yang dijalani ketika di Jogja adalah nangkring (nongkrong) di warung Lek Man. Warung angkringan (dalam bahasa Indonesia berarti warung nongkrong) yang terletak di sebelah utara stasiun Tugu (stasiun kereta api pusat di Jogja) ini terbilang warung istimewa karena menyajikan minuman khas yang paling nJawani (Jawa banget) yang terjaga mutunya seperti teh nasgitel (panas, legi/manis, kentel/kental). Teh inilah yang sampai sekarang diakui sebagai teh khas Jawa yaitu ramuan sederhana antara teh dan bunga melati. Masyarakat nasional maupun internasional menyebutnya dengan jasmine tea.

Dapur. Selalu siap air panas...

Dapur. Selalu siap air panas...

Orang Jepang dan maniak teh menyebutnya dengan sebutan khusus Java Tea. Namun begitu, warung Lek Man juga menyediakan versi es tehnya (ice tea). Nah, di mana letak enaknya teh Lek Man atau teh Jawa pada umumnya? Teh Jawa yang paling enak adalah teh yang bisa menyajikan rasa pahit, sepah, dan manis secara berimbang. Ketiga unsur inilah yang menjadi teh Jawa mendunia dan memiliki kekhasannya dibandingkan teh-teh lain.

Menu khas angkirang Jogja

Menu khas angkringan Jogja

Satu telor, usus, sapi, atau kulit? Silahkan pilih

Satu telor, usus, sapi, atau kulit?

Sebenarnya, di seluruh Jogja dan tentu di seluruh Jawa, minuman teh adalah minuman standar di warung, hajatan, atau rumah. Tetapi sajian teh yang benar-benar khas Jawa (nasgitel) ternyata tidak lagi mudah ditemukan. Warung-warung angkringan di sudut-sudut Jogja, Solo, atau daerah lain di Jawa, tidak lagi menyajikan teh yang nJawani. Mungkin ini terjadi karena semakin bervariasinya teh-teh yang beredar di pasaran. Teh-teh modern yang umumnya dalam bentuk kantong kertas siap seduh ini menggeser keberadaan teh Jawa yang khas dan klasik. Namun begitu keberadaan teh modern secara alami kemudian menempatkan teh Jawa pada tempat yang khusus dan istimewa di hati para penikmat teh. Inilah mungkin yang membuat beberapa pabrikan teh menghadirkan produk khusus berkategori istimewa untuk teh Jawa. Harganya pun menjadi istimewa 2 – 3 kali lebih mahal dari teh biasa.

Teh istimewa dari Sosro yang merujuk pada teh Jawa Nasgitel

Teh istimewa dari Sosro yang merujuk pada teh Jawa Nasgitel

Ini dapat dilihat dari produk Sosro dengan varian Heritagenya. Waduh..kok jadi ngomongin tentang teh Jawa. hehehe..sori ngelantur.

Kembali ke warung Lek Man. Teh nya benar-benar mantab. Top margotob. Pokoknya kalau anda ingin menikmati rasa sejati dari teh Jawa, ya di angkringan Lek Man ini. Ketika penulis menanyakan rahasia dari teh  ini, dengan gamblang bu Lek Man (sang istri) membuka rahasianya. Ternyata teh Jawa Lek Man ini merupakan campuran dari dua teh yang diseduh dalam satu wadah dengan komposisi 1:2. Satu untuk teh Gopek dan dua untuk teh hitam (lupa nama mereknya). Ini yang membedakan teh Lek Man dengan angkringan-angkringan lain. Angkringan-angkringan di Jogja umumnya menggunakan satu merek teh yaitu teh Gopek.

Angkringan Lek Man

Suasana angkringan Lek Man

Meski begitu, ternyata teh Gopek yang digunakan angkringan Lek Man memiliki perbedaan dibungkusnya yaitu teh Gopek dengan bungkus satu warna merah. Teh Gopek yang beredar di pasaran dicetak dengan dua warna. Beda, kan? Dua jenis teh ini, teh Gopek khusus dan teh hitam, ternyata hanya tersedia di sebuah toko kelontong di dekat Malioboro (lagi-lagi lupa nih nama jalannya. Maklum dah tua). Tidak ada di toko lain. Penulis sudah mencoba mencari ke berbagai toko di Jogja bahkan ke toko sebelah yang menyediakan khusus teh Lek Man, tak kunjung  menemukan. Konon, teh hitam yang khusus ini hanya ada di Wonosobo. Sebuah kota dengan iklim sejuk yang menyuplai teh ke berbagai wilayah di Indonesia.

Peta

Peta menuju angkringan Lek Man. Nggak jauh dari stasiun Tugu.

Untuk menemukan angkringan Lek Man ini tidak terlalu sulit. Posisinya berada di sisi timur jalan Wongsodirjan, persisi di pertemuan jalan Wongsodirjan dan Mangkubumi.  Jalan ini berada di sisi utara stasiun Tugu.  Di sinilah sekitar jam  4 sore berjajar sekitar 4 – 5 angkringan. Temukan saja angkringan yang memiliki spanduk bertuliskan Lek Man.

Menikmati sore..

Menikmati sore..

Paling tepat menikmati angkringan Lek Man ini adalah  antara jam 3 – 6 sore. Pengunjung belum begitu banyak. Sambil menikmati hangat matahari sore, di temani  sebuah teh panas, legi, kentel….fuiiihh….nikmat…..

About the Author

Terima kasih telah membaca artikel di blogku. Setelah itu silahkan klik tanda "SUKA" bergambar jempol dan FOLLOW ME di sebelah kanan. Sekali lagi, Terima kasih sudah mengklik SUKA dan FOLLOW ME, Anda telah memberi saya seribu semangat untuk terus berkarya.