Oleh Zazuli (Pemerhati Politik Amatir).
Semalam, untuk pertama kalinya rakyat Indonesia menyaksikan capres-capresnya berdebat. Diselenggarakan oleh KPU dan difasilitasi oleh Trans Corp. debat putaran I ini berlangsung sekitar 2 jam dan dimoderatori oleh Rektor Universitas Paramadina, Anies B. Pada awal diumumkannya debat ini, mungkin sebagian besar dari kita mengharapkan munculnya suatu debat atau adu argumentasi yang seru dan cenderung panas. Capres yang lain memaparkan konsep dan programnya, capres lawan membantah dan berusaha mematahkan melalui argumen-argumen yang bernas dan intelek. Harapan ini sangat berasalan mengingat selama ini kita disuguhi oleh pertunjukan debat capres dari negeri paman Sam. Di negeri pelopor demokrasi liberal ini, capres berdebat secara langsung dan berusaha mematahkan argumen lawannya. Bahkan tidak jarang berlangsung sengit. Di negeri ini kita juga sering diberi tontonan debat anggota dewan yang sengit, baik saat rapat pleno maupun dalam acara talkshow di tv swasta. Sehingga wajar kita memiliki ekspetasi tinggi terhadap munculnya debat sengit antar capres.
Alasan lain adalah selama masa kampanye, kita disuguhi oleh perang statement antar capres. Perang statement dan saling tuding serta saling menjelekan capres lain bahkan telah mengarah pada blackcampaign. Sayang, perang ini memang terjada jarak jauh melalui media massa atau cetak. Debat sengit secara langsung justru terjadi antar pendukung dan tim sukses.
Ketika para capres dipertemukan dalam acara Debat Capres yang official dari KPU, yang terjadi adalah kejaiman. Ya, kejaiman. Kegarangan para capres mengomentari capres lain melalui perang statemen di media massa selama ini, bahkan tidak muncul sekalimat pun. Entah karena menjaga sopan santun, keder duluan setelah ketemua orangnya, atau cuma berani ngomong di belakang?
Capres Megapro yang selama ini begitu sengit menyerang SBY-Boediono baik melalui statement di media massa atau iklan kampanye, tiba-tiba saja melunak. Lebih senang ngomongin diri sendiri dan melihat ke belakang di era pemerintahan Mega serta berandai-andai dengan janji-janji program jika terpilih. Tidak ada serangan berarti ke SBY atau JK.
Capres SBY juga. Dengan gaya formal dan santunnnya, capres incumbent ini memaparkan keberhasilan pemerintahan selama lima tahun terakhir. Memang, rasanya mustahil mengharapkan argumentasi yang sengit dari SBY. Namun, di media massa, SBY dikenal dengan sindirannya terhadap lawan-lawan politiknya. Nah, didebat capres ini, tiba-tiba saja sindiran SBY hilang bak ditelan bumi…. hehehehehe……..
Capres JK dikenal sebagai capres yang bergaya slebor, santai, dan terbuka. Bahasa-bahasanya jelas dan lugas bahkan kadang diplomatis. Selama debat, JK sering memposisikan diri sebagai ’saya kan Wapres’, presidennya kan pak SBY, jadi…. ah,cari selamat. Gaya lugasnya tiba-tiba melunak di depan SBY. Pakewuh (gak enak hati)? hehehee…… Mungkin saja. Kelugasan yang diharapkan keluar untuk menyerang capres lain, tiba-tiba menguap. JK masih lugas, tp tidak menyerang.
Kesimpulannya, ini bukan Debat Capres. Tidak ada bantahan bahkan ketika moderator memberikan kesempatan secara tegas boleh mengomentari dan membantah. Kesempatan ini bahkan digunakan oleh para capres untuk melengkapi argumen capres lain bahkan secara terbuka semua capres menyatakan kesependapatannya terhadap paparan capres lawan. Tidak ada kata ‘tidak setuju’. Masih takut mengatakan ‘tidak’?
Argumen-argumen para capres dapat dinilai sebagai argumen saling melengkapi. Bukan mengungguli. Dari segi argumen, tidak ada yang unggul. Semua statement capres secara lugas untuk melengkapi capres-capres lain, padahal yang dipilih oleh rakyat hanya satu. Satu yang paling unggul. Kalau semua saling melengkapi, tak ada yang bisa dilihat secara menonjol. Jadi sangat salah jika ini disebut Debat Capres. Yang benar adalah Obrolan Capres.**



Rada rada bingung klo bicara tentang politik.. secara beda di mulut beda di hati, waktu lagi kampanye.. pasti sesumbar yang bagus2.. waktu da jadi wakil rakyat… Lupa semua nya -_-’
Bner beudh pak!
hehehe,,,
sy jg nnton itu,,
tp g da yg nmx tu “debat”,,,,
mlah cm ngomong ky orasi, bhkan stuju dgn argumentasi lawan,,,
aneh beuudh!!!